Hari itu aku memang sudah keterlaluan terhadap kedua orang tuaku. Yang seenaknya saja meminta apa yang aku inginkan dengan tidak tahu menau hal itu harus sudah ada didepan mataku, dan aku sangat menyesal karena telah membohongi mereka ketika aku masih berada di sisi mereka.
Kini ku sadar bahwa dalam mencari nafkah untuk diriku sendiri saja sudah susah dan banyak hal yang menentang hati ini. Begitu kejamnya aku ketika mengingat semua yang telah ku lakukan terhadap kedua orang tuaku yang kerja keras banting tulang demi menghidupi anak-anak mereka. Mah....Pah....Maafkan aku yang telah banyak salah terhadap kalian?
Ingin rasanya aku untuk membalas semua jasa mereka dengan tanganku, namun sampai saat ini semua itu belum bisa aku capai karena keterbatasan kemampuan ku ini. Namun aku yakin suatu saat aku bisa sedikit membalas atau paling tidak bisa membahagiakan hati keuda orang tuaku, karena aku tahu kalau untuk membalas semua jasanya aku tak akan sanggup. Bahkan jika dunia ini miliku itu pun belum cukup untuk membalas semua jasa mereka terhadap aku yang telah mereka rawat dari kandungan sampai saat ini.
Hanya satu cita-citaku sekarang Aku ingin memberikan mereka apa yang diinginkan mereka selama hidup di dunia ini. Yaitu merka ingin pergi HAJI. Hal inilah yang memancingku untuk hidup mandiri dan terus berusaha untuk memenuhi keinginan kedua orang tuaku itu. Entah kapan semua itu akan aku capai namun aku yakin itu akan ku raih. Hal itu juga yang membawaku sampai ke negri anta berantah ini. Hidup sendiri disini walau agak sedikit sulit awalnya karena harus menyesuaikan bahasa dan kebudayaan yang ada di sini namun aku yakin bahwa aku bisa untuk menaklukannya. Yang Alhamdulillah sampai sekarang ini aku sudah bisa dikatakan berhasil menaklukan negeri anta berantah tersebut, aku bisa hidup dan bahkan aku mulai melanjutkan jenjang pendidikan ku disini.
Perjalanan Hidupku bisa masuk ke negeri anta berantah ini begitu sulit kurasakan. Berawal dari ajakan seorang teman yang dulu satu pekerjaan dengan ku disebuah perusahaan Cas N Credit barang-barang elektronik di kotaku dulu (salesmen). Aku diajaknya bekerja di negeri antaberantah ini sebagai seorang pendidik untuk mendidik anak-anak SD disebuah kota terpencil di negeri tersebut. Dan memang kota itu sangat jauh dari keramaian kota metropolitan, jauh dari kehidupan yang berkilauan di mana kita bisa melakukan hal dan memanjakan diri disana. Namun ini sangat jauh berbeda, mungkin kalau aku bandingkan dengan kampungku yang menurutku sudah sangat deso sekali itu lebih jauh lagi. Dimana jarak untuk mencapai kota itu sangat lah sulit dan juga jauh harus melintasi sungai dan lautan lepas untuk smpai kesana, dengan perjalanan luamayan panjang. Ongkos trasportasinya pun tidak sedikit yang harus kita keluarkan untuk sampai kesana. Kehidupan yang sunyi dan jauh dari hal-hal yang membuat kita menjadi rusak akidah. Walau tempatnya sangat terpencil namun disna orangnya sangat ramah dan baik-baik. Serta untuk hal makan sepertinya kita tidak perlu kuatir tentang hal tersebut. Karena disana banyak sekali makanan yang alami dan jauh dari bahaya bahan-bahan kimia yang saat ini sedang marak dibicarakan orang.
Pertama kali aku datang ke negeri itu sendirian yang hanya mengandalkan sebuah pesan singkat dari kawanku yang sudah lebih dulu berada di negeri itu. Sepanjang jalan tak lepas ku menatap pones "CEPE" ku dan tak bosan ku menanyakan kapan aku sampai ditempat tujuanku kepada sopir bus itu. Yang mungkin sopir bis itu bosan dengan ku yang selalu menanyakan hal yang sama kepadanya, walau aku sudah diberi tahu bahwa apa yang ku tuju itu masih jauh tuk ditempuh, namun tetap saja ku tanyakan. Karena aku takut sopir bis itu lupa dengan tujuan ku. Perjalanan yang panjang yang kutempuh dari kota ku ke negeri antabranta itu begitu banyak kenangan yang mungkin saat ini masih aku kenang. Yaitu pertama kali aku naik speed but (sebuah alat transportasi jalur laut yang dipakai di negeri antabrantah) dan waktu itu aku duduk di tempat duduk yang berada dipaling depan dengan posisi santai karena sudah lega dengan sampainya di pusat kota yang kukira itu tinggal beberapa kilo meter lagi. Aku yang santai sambil memegang rokok ditangan ku duduk paling depan menunggu muatannya penuh. Dan tidak terpikir panjang oleh ku ketika para penumpang lain datang dan mereka malah tidak mau duduk di posisi paling depan dan seperti menyesal ketika mereka mendapatkan kursi paling depan, tak terpikir dibenaku karena aku masih bingun harus kemana lagi ketika selesai naik speed but itu nanti, apakah akan sampai langsung ketempat tujuan ataukan harus naik kendaraan transportasi lain lagi. Karena ongkos dikantongku tinggal cepe lagi yang kurasa tidak akan cukup lagi ketka aku harus melakukan transport lagi. Dengan harapan yang cemas dan HP Cepeku ini, aku diberikan sebuah kegembiraan disaat aku cemas, ketika speed but yang aku naiki mulai berjalan dengan cepat mengarungi lautan dengn ombak-ombaknya yang melawan kendaraan yang ku naiki sehingga membuat aku basah kuyup dan sakit sekali pantatku karena terpental2 oleh ombak yang menghantam kapalku, dan itu berjalan selama kurang lebih 4 jam lamanya.
Ya Allah baru kali ini aku berkendaraan seperti ini, diatas badan yang sakit semua dan perasaan was2 aku sedikit tersenyum karena kejadian tersebut.
Sesampainya aku di tempat tujuan langsung kurebahkan badanku dikasur dan beristirahat, sampai2 aku lupa untuk menyapa semua keluarga kawanku itu.
Kini ku sadar bahwa dalam mencari nafkah untuk diriku sendiri saja sudah susah dan banyak hal yang menentang hati ini. Begitu kejamnya aku ketika mengingat semua yang telah ku lakukan terhadap kedua orang tuaku yang kerja keras banting tulang demi menghidupi anak-anak mereka. Mah....Pah....Maafkan aku yang telah banyak salah terhadap kalian?
Ingin rasanya aku untuk membalas semua jasa mereka dengan tanganku, namun sampai saat ini semua itu belum bisa aku capai karena keterbatasan kemampuan ku ini. Namun aku yakin suatu saat aku bisa sedikit membalas atau paling tidak bisa membahagiakan hati keuda orang tuaku, karena aku tahu kalau untuk membalas semua jasanya aku tak akan sanggup. Bahkan jika dunia ini miliku itu pun belum cukup untuk membalas semua jasa mereka terhadap aku yang telah mereka rawat dari kandungan sampai saat ini.
Hanya satu cita-citaku sekarang Aku ingin memberikan mereka apa yang diinginkan mereka selama hidup di dunia ini. Yaitu merka ingin pergi HAJI. Hal inilah yang memancingku untuk hidup mandiri dan terus berusaha untuk memenuhi keinginan kedua orang tuaku itu. Entah kapan semua itu akan aku capai namun aku yakin itu akan ku raih. Hal itu juga yang membawaku sampai ke negri anta berantah ini. Hidup sendiri disini walau agak sedikit sulit awalnya karena harus menyesuaikan bahasa dan kebudayaan yang ada di sini namun aku yakin bahwa aku bisa untuk menaklukannya. Yang Alhamdulillah sampai sekarang ini aku sudah bisa dikatakan berhasil menaklukan negeri anta berantah tersebut, aku bisa hidup dan bahkan aku mulai melanjutkan jenjang pendidikan ku disini.
Perjalanan Hidupku bisa masuk ke negeri anta berantah ini begitu sulit kurasakan. Berawal dari ajakan seorang teman yang dulu satu pekerjaan dengan ku disebuah perusahaan Cas N Credit barang-barang elektronik di kotaku dulu (salesmen). Aku diajaknya bekerja di negeri antaberantah ini sebagai seorang pendidik untuk mendidik anak-anak SD disebuah kota terpencil di negeri tersebut. Dan memang kota itu sangat jauh dari keramaian kota metropolitan, jauh dari kehidupan yang berkilauan di mana kita bisa melakukan hal dan memanjakan diri disana. Namun ini sangat jauh berbeda, mungkin kalau aku bandingkan dengan kampungku yang menurutku sudah sangat deso sekali itu lebih jauh lagi. Dimana jarak untuk mencapai kota itu sangat lah sulit dan juga jauh harus melintasi sungai dan lautan lepas untuk smpai kesana, dengan perjalanan luamayan panjang. Ongkos trasportasinya pun tidak sedikit yang harus kita keluarkan untuk sampai kesana. Kehidupan yang sunyi dan jauh dari hal-hal yang membuat kita menjadi rusak akidah. Walau tempatnya sangat terpencil namun disna orangnya sangat ramah dan baik-baik. Serta untuk hal makan sepertinya kita tidak perlu kuatir tentang hal tersebut. Karena disana banyak sekali makanan yang alami dan jauh dari bahaya bahan-bahan kimia yang saat ini sedang marak dibicarakan orang.
Pertama kali aku datang ke negeri itu sendirian yang hanya mengandalkan sebuah pesan singkat dari kawanku yang sudah lebih dulu berada di negeri itu. Sepanjang jalan tak lepas ku menatap pones "CEPE" ku dan tak bosan ku menanyakan kapan aku sampai ditempat tujuanku kepada sopir bus itu. Yang mungkin sopir bis itu bosan dengan ku yang selalu menanyakan hal yang sama kepadanya, walau aku sudah diberi tahu bahwa apa yang ku tuju itu masih jauh tuk ditempuh, namun tetap saja ku tanyakan. Karena aku takut sopir bis itu lupa dengan tujuan ku. Perjalanan yang panjang yang kutempuh dari kota ku ke negeri antabranta itu begitu banyak kenangan yang mungkin saat ini masih aku kenang. Yaitu pertama kali aku naik speed but (sebuah alat transportasi jalur laut yang dipakai di negeri antabrantah) dan waktu itu aku duduk di tempat duduk yang berada dipaling depan dengan posisi santai karena sudah lega dengan sampainya di pusat kota yang kukira itu tinggal beberapa kilo meter lagi. Aku yang santai sambil memegang rokok ditangan ku duduk paling depan menunggu muatannya penuh. Dan tidak terpikir panjang oleh ku ketika para penumpang lain datang dan mereka malah tidak mau duduk di posisi paling depan dan seperti menyesal ketika mereka mendapatkan kursi paling depan, tak terpikir dibenaku karena aku masih bingun harus kemana lagi ketika selesai naik speed but itu nanti, apakah akan sampai langsung ketempat tujuan ataukan harus naik kendaraan transportasi lain lagi. Karena ongkos dikantongku tinggal cepe lagi yang kurasa tidak akan cukup lagi ketka aku harus melakukan transport lagi. Dengan harapan yang cemas dan HP Cepeku ini, aku diberikan sebuah kegembiraan disaat aku cemas, ketika speed but yang aku naiki mulai berjalan dengan cepat mengarungi lautan dengn ombak-ombaknya yang melawan kendaraan yang ku naiki sehingga membuat aku basah kuyup dan sakit sekali pantatku karena terpental2 oleh ombak yang menghantam kapalku, dan itu berjalan selama kurang lebih 4 jam lamanya.
Ya Allah baru kali ini aku berkendaraan seperti ini, diatas badan yang sakit semua dan perasaan was2 aku sedikit tersenyum karena kejadian tersebut.
Sesampainya aku di tempat tujuan langsung kurebahkan badanku dikasur dan beristirahat, sampai2 aku lupa untuk menyapa semua keluarga kawanku itu.






gan kok readmorenya kayak gitu...????
BalasHapusemang mesti kyk gmn mas bro
Hapusanda bkn org indo ya?