BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Meningkatkan mutu pendidikan adalah menjadi tanggung
jawab semua pihak yang terlibat dalam pendidikan terutama bagi guru SD, yang
merupakan ujung tombak dalam pendidikan dasar. Guru SD adalah orang yang paling
berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat
bersaing di zaman pesatnya perkembangan teknologi. Guru SD adalah setiap pembelajaran
selalu menggunakan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat
memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering
terdengar keluhan dari para guru di lapangan tentang materi pelajaran yang
terlalu banyak dan keluahan kekurangan waktu untuk mengajarkan semua.
Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas
penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru
cenderung menggunakan model konvensional pada setiap pembelajaran yang
dilakukannya, hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap
model-model pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model
pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan professional guru,
dan sangat sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Kurikulum tingkat
satuan pendidikan yang mulai diberlakukan di sekolah dasar pertujuan untuk menghasilkan
lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang leibh tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses
pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki
siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran PAI. Disamping itu
kurikulum tingkat satuan pendidikan memberi kemudahan kepada guru dalam
menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup
yang mengacu pada 4 pilar pendidikan universial, yaitu belajar untuk mengetahui
(learning to know), belajar dengan
melakukan (learning to do), belajar
untuk hidup dalam kebersamaan (learning
to live toghether), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu
pembelajarannya, di mulai dari rancangan pembelajaran yang baik dengan
memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber
belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak di temui proses pembelajaran
yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik bahkan
cenderung membosankan sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar materi
PAI. Rendahnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI di SDN 3 Sekayu
Kabupaten Musi Banyuasin menunjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja
belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran yang
berkualitas. Untuk mengetahui mengapa siswa kurang termotivasi belajar materi PAI,
tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab
ketidak berhasilan siswa dalam pelajaran PAI. Sebagai guru yang baik dan
professional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera.
Berdasarkan hal tersebut di atas, salah satu alternative yang bisa dilakukan
dalam menumbuhkan motivasi belajar sisaw pada materi PAI yaitu dengan penerapan
metode bermain dan cerita (BC) yang mana dalam dunia anak adalah dunia bermain.
Bagi anak-anak kegaitan bermain selalu menyenangkan. Melalui kegaitan bermain
ini, anak bisa mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi dan sosial.
Begitu juga dengan metode cerita apabila kita isi dengan materi pembelajaran
maka akan cepat mudah dicerna atau difahami oleh peserta didik. Pengunaan
metode bermain dan cerita (BC) ini diharapkan agar materi pelajaran PAI dapat
mudah dipahami dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap mata
pelajaran PAI. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang menatakan baha salah satu
cara menggerakan motiasi belajar adalah dengan mencipatakan kondisi belajar
yang menyenangkan.[1]
Motivasi dapat juga di katakana
serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga
seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bial ia tidak suka, maka akan
berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu, jadi
motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar yaitu dengan cara bermain
dan cerita, tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam
kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak
di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan
belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.[2]
Kemudian dalam hubunganya dengan
kegiatan belajar, yang penting bagaimana menciptakan kondisi atau suatu proses
yang mengarahkan siswa itu melakukan aktifitas belajar. Dalam hal ini sudah
barang tentu peran guru sangat penting. Bagaimana guru melakukan usaha-usaha
untuk dpat menumbuhkan danmembeikan motivasi agar anak melakukan aktivitas belajar
dengan baik. Untuk dapat belajar dengan baik diperlukan proses dan motivasi
yang baik pula. Dalam hal ini perlu di tegaskan bahwa motivasi tidak pernah di
katakana baik, apabila tujuan yang diinginkan juga tidak baik. Memberikan
motivasi kepada seorang siswa, berarti menggerakan siswa untuk melakukan
sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan si subjek belajar merasa ada
kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar.[3]
Di dalam kegiatan belajar mengajar
peranan motivasi baik intrinsic maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan
motivasi, pelajar dapat mengembankan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan
dan memelihara ketekunan dalam melkukan kegiatan belajar. Dalam kaitan itu
perlu di ketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan dan memberiki motivasi adalah
bermacam-macam. Hal ini guru harus berhati-hati dalam menumbuhkan dan member
motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya
memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan perkembangan belajar
siswa.[4]
Melalui kegiatan bermain, anak dapat
mengembangkan kemampuan sosialnya, seperti membina hubungan dengan anak yang
lain, bertingkah laku sesuai dengan
tuntutan masyarakat, menyesuaikan diri dengan teman sebaya, dapat memahami
tingkah lakunya sendiri, dan paham bahwa setiap perubahan ada konsekuensinya.[5]
Sesuai dengan manfaat penggunaan metode
bercerita bagi anak SD yang telah dikemukakan, kegiatan bercerita merupakan
salah satu cara yang ditempuh guru untuk member pengalaman belajar anak
memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan lebih baik. Melalui cerita
anak menyerap pesan-pesan yang dituturkan melalui kegiatan bercerita. Penuturan
cerita yang syarat informasi atau nilai-nilai itu dihayati anak dan diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan bercerita anak dibimbing
mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan cerita guru yang bertujuan untuk
memberikan informasi atau menanamkan nilai-nilai social, moral, dan keagamaan, pemberin
informasi tentang lingkungan fisik dan lingkungan social.[6]
Oleh karena itu, sangat penting
dilakukan untuk mengadakan penelitian yang berhubungan dengan metode bermain
dan cerita (BC). Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk
meneliti penerapan metode bermain dan cerita (BC) dengan judul “Implementasi Metode Bermain dan Cerita
(BC) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa Kelas II di SD Negeri 3
Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin”.
1.2.Rumusan Masalah
Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Bagaimana implementasi metode bermain dan cerita
(BC) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa kelas II di SD Negeri 3
Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin?
2) Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat
penerapan metode bermain dan cerita (BC) dalam meningkatkan motivasi belajar
PAI siswa kelas II di SD Negeri 3 Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin?
1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian
- Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1) Untuk mengetahui penerapan metode bermain dan cerita
(BC) dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa kelas II di SD Negeri 3
Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin.
2) Untuk mengetahui faktor yang mendukung dan
menghambat penerapan metode bermain dan cerita (BC) dalam meningkatkan motivasi
belajar siswa kelas II di SD Negeri 3 Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin
- Manfaat Penelitian
Penelitian
ini diharapkan bermanfaat bagi semua pihak
1) Bagi lembaga pendidikan, penelitian ini diharapkan
dapat memberikan pemikiran pengetahuan, informasi dan sekaligus referensi yang
berupa bacaan ilmiah.
2) Bagi pengembangan khazanah ilmu, penelitian ini
dapat memberikan infomasi tentang implementasi metode bermain dan cerita (BC)
untuk meningkatkan motivasi belajar PAI yang telah dilaksanakan dan dapat
dijadikan bagi peneliti selanjutnya.
BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Jenis Penelitian
Dalam penulisan praktek penelitian ini, jenis
penelitiannya ialah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian.[7] Sedangkan penelitian yang
dilakukan adalah penelitian mendalam (indepth
study) mengenai suatu unit social sedemikian rupa sehingga menghasilkan
gambaran yang terorganisasikan dengan baik dan lengkap mengenai unit sosial tersebut.[8]
2.2. Jenis dan Sumber Data
a.
Jenis Data
Jenis data dalam
penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif yaitu data hasil
penelitian yang terkait dengan motivasi belajar PAI siswa kelas II di SD Negeri
3 Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin.
b.
Sumber Data
Sumber data dalam
penelitian ini terdiri 2 macam, yaitu sumber data primer dan sumber data
sekunder. Sumber data primer siswa dan guru PAI di SD Negeri 3 Sekayu.
Sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah dewan guru (pada
umumnya), Kepala Sekolah dan Karyawan SD Negeri 3 Sekayu.
2.3. Populasi dan Sempel
Yang dimaksud dengan
populasi dalam penelitian ini adalah seluruh sumber data. Dan yang dimaksud
dengan sempel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti, sampel di sini
meliputi : Siswa Kelas II SD Negeri 3 Sekayu yang berjumlah 34 siswa dan guru
Pendidikan Agama Islam yang berjumlah 2 Guru.
2.4. Teknik Pengumpulan Data
a.
Teknik Observasi
Observasi adalah suatu cara mengumpulkan data dengan
mengamati langsung terhadap objeknya. Metode ini digunakan untuk melihat dan
mengamati secara langsung kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan melihat
sarana dan prasarana yang dimiliki.
b.
Teknik
Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data melalui
bahan-bahan tertulis ataupun gambar-gambar yang ada (telah dibuat/telah
disusun) oleh seseorang atau lembaga. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang
sudah berlalu. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang keadaan
geografis, struktur organisasi, keadaan guru, dan siswa.
c.
Metode Wawancara
Wawancara adlah suatu cara pengumpulan data yang
dilakukan secara tatap muka. Penelitian mengajukan pertanyaan dan orang yang
diwawancarai memberikan jawaban secara lisan pula. Metode ini digunakan untuk
mengumpulkan data dari guru bidang Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) tentang
motivasi belajr siswa di kelas II SD Negeri 3 Sekayu.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1. Latar Belakang Sekolah
SD Negeri 3 Sekayu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten
Musi Banyuasin pada tahun 1950, SD ini terletak di tengah – tengah kota Sekayu
tepatnya di Kabupaten Musi Banyuasin. Jarak antara SD Negeri 3 Sekayu dengan
Kantor Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin sekitar ±200 m, sedangkan jarak
antara SD Negeri 3 Sekayu dengan Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Musi
Banyuasin ± 200 m.
Pada SD Negeri 3 memiliki Akreditasi C dengan nilai
57,95, yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Sekolah Kabupaten Musi Banyuasin,
namun semakin majunya kegiatan proses belajar mengajar di SD Negeri 3 Sekayu
meningkat dan dengan kerja keras seluruh dewan guru, maka Akreditasi sekolah
meningkat pula menjadi A yang telah dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Sekolah
Propinsi Sumatera Selatan pada tanggal 27 November 2008
SD Negeri 3 Sekayu saat ini memiliki pegawai yang terdiri
dari tenaga Pengajar Pegawai Negeri Sipil (PNS) berjumlah 17 orang dan tenaga
honorer 3 orang. Sedangkan penjaga sekolah 2 orang
3.2. Tujuan
Untuk
mengetahui kegiatan proses belajar mengajar di SD Negeri 3 Sekayu.
3.3. Manfaat
a.
Sebagai bahan masukan bagi SD
Negeri/swasta yang berada di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin.
b.
Sebagai masukan bagi institusi yakni
Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Sekayu.
Visi SDN 3 Sekayu
“ Terdepan dalam prestasi,
Mandiri dalam peningkatan mutu pendidikan dan
Mengutamakan praktek Keagamaan “
Misi
SDN 3 Sekayu
Untuk
mendukung Visi tersebut maka telah dirumuskan Misi SDN 3 Sekayu sebagai
berikut :
1.
Mewujudkan kompetisi yang
sehat, sportif, adil dan transparan.
2.
Meningkatkan kualitas dan
kuantitas guru sehingga dapat mengikuti kemajuan ilmu dan teknologi dengan
jumlah yang memadai.
3.
Memberikan kesempatan yang
seluas-luasnya kepada siswa dengan menyediakan waktu yang semaksimal mungkin
untuk belajar.
4.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana
pendidikan di SDN 3 Sekayu.
5.
Memperbanyak kesempatan praktek keagamaan.
6.
Meningkatkan kesadaran
dalam menjaga lingkungan sekolah

Sumber
: Data Sekolah SD Negeri 3 Sekayu
3.4. Motivasi Belajar
Dalam kegiatan belajar,
motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin
kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan
dapat tercapai.
Dalam kegiatan belajar,
motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam
belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi ada dua, yaitu
motivasi Intrinsik dan motivasi Ektrinsik.
1)
Motivasi
Intrinsik adalah motivasi yang
timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain,
tetapi atas dasar kemauan sendiri.
2)
Motivasi
Ekstrinsik adalah motivasi yang
timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan,
suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa
mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi
pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri
siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian
biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru.
Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi
pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya,
kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi
siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang
merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru
adalah membangkitkan
motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar
3.5. Metode Bermain dan Cerita
a.
Metode Bermain
Menurut Dra.
Moeslichatoen penggunaan metode bermain merupakan salah satu penerapan yang
digunakan oleh para guru untuk memotivasi belajar siswa, karena metode bermain
merupakan bagian dari strategi kegiatan, metode ini dipilih berdasarkan
strategi kegiatan yang sudah dipilih dan ditetapkan. Adaupun bermain di sekolah
dapat dibedakan menjadi bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan bimbingan
yang diarahkan dalam bermain bebas dapat diartikan suatu kegiatan bermain
dimana anak mendapat kesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan mereka
dapat memilih bagaimana menggunakan alat-alat tersebut, bermain dengan bimbingan,
guru memilih alat permainan dan diharapkan anak-anak dapat memilih guna
menemukan suatu konsep (pengertian) tertentu. Dalam bermain yang diarahkan,
guru mengajarkan bagaimana cara bermain sesuatu yang diarahkan ke dalam
pembelajaran yang tidak jauh-jauh dari belajar PAI.
Dengan metode ini anak
akan memiliki daya ingat yang lebih. Menurut pendidik dan para ahli psikologi,
bermain merupakan pekerjaan masa kanak-kanak dan cerminan pertumbuhan anak.
Bermain merupakan kegiatan yang memberikan kepuasan bagi diri sendiri, melalui
bermain anak memperoleh pembatasan dan memahami kehidupan. Fathuk Bab Abdul
Halim Sayyid menyatakan bahwa bermain merupakan sarana untuk belajar
mengembangkan akal dan fisik secara bersamaan. Bermain adalah seni dan ilmu,
dengan menerapkan metode bermain dan cerita peserta didik akan termotivasi
untuk terus belajar.
Bermain merupakan
kegiatan yang memberikan kesenangan dan dilaksanakannya untuk kegiatan itu
sendiri yang lebih ditekankan pada caranya dari pada hasil yang diperoleh dari
kegiatan itu, kegiatan bermain tidak dilaksanakan serius dan fleksibel.
Di dalam kegiatan
penelitian kali ini penulis akan menerangkan bagaimana metode bermain dan
cerita yang dilakukan di SD Negeri 3 Sekayu, yang penulis dapatkan dari
narasumber yang mengajar di lokasi tempat penelitian dilakukan.
Dari data yang penulis
dapatkan, guru PAI yang ada di SD Negeri 3 Sekayu melakukan metode bermain dan
cerita (BC) dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas II. Pendidik menggunakan
sarana taman yang berada di lingkungan sekolah dalam menerapkan pemberian
materi dengan metode bermain. Sedangkan dalam pemberian materi pengajaran
dengan metode cerita pendidik memgunakan media buku dan ceramah.
b.
Metode Cerita
Menurut Abu Ahmadi dan
Zul Ardian, berpendapat bahwa bahan cerita yang baik dan terpilih berguna
sekali untuk pembentukan budi pekerti anak. Dongeng atau cerita daoat dijadikan
pilihan sebagai media pendekatan dalam pendidikan nilai-nilai ajaran Islam.
Bagi kalangan keluarga
muslim tema cerita (dongeng) yang diplih tidak hanya karena segi daya
nilai-nilai ajaran Islam. Kini memang tugas guru untuk bisa mengidangkan
dongeng agamis pada anak didiknya dalam upaya menenggelamkan pengaruh dongeng
yang temanya tidak baik dan dapat merusak akidah dan akhlak anak didik, serta
yang dapat memotivasi belajar PAI.[9]
Kegiatan bercerita bisa
memberikan pengalaman belajar untuk berlatih mendengarkan. Melalui mendengarkan
anak memperoleh bermacam-macam informasi tentang pengetahuan, nilai, dan sikap
untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai agama
yang dapat ditanamkan pada anak Sekolah Dasar (SD) yakni dimana sebuah cerita
tersebut akan menjadi sangat bernilai apabila guru mampu mengaitkan materi
pendidikan agama islam di dalamnya, sehingga siswa tidak hanya mendengar materi
cerita tetapi mereka juga akan lebih banyak mengenal tentang pelajaran
pendidikan agama Islam yang dikemas dalam metode cerita. Jadi konsep-konsep
metode cerita di atas dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya metode cerita
kepada anak sangatlah membantu guru dalam memotivasi belajar siswa melalui
cerita yang tidak jauh dari kegiatan belajar PAI.[10]
BAB
IV
SIMPULAN
Dari hasil penelitian
yang telah penulis lakukan di SD Negeri 3 Sekayu dalam meningkatkan motivasi
belajar PAI Kelas II ini dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan metode
Bermain dan Cerita (BC) kepada anak usia dini sangat membantu guru dalam
memotivasi belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi Sunar Prasetyono, Membedah Psikologi Bermain Anak. (Yogyakarta : Think, 2007)
Sardiman A.M, Interaksi
Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Tahun 2001)
Dra. Moeslichatoen R. M.Pd. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. (Jakarta: Tahun 2004)
Lexy J. Moleong, Metodologi
Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004).
Saifuddin Azwar, Metode
Penelitian, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999)
J. Abdullah, Memilih
Dongeng Islam Pada Anak, (Jakarta : Amsah, 1997)
Lampiran 1
Gambar Kegiatan Penelitian
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
LAPORAN
PENELITIAN PENDIDIKAN
IMPLEMENTASI
METODE BERMAIN DAN CERITA (BC) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI SISWA
KELAS II DI SD NEGERI 3 SEKAYU KABUPATEN MUSI BANYUASIN

Diajukan
untuk memenuhi salah satu syarat tugas individu
Pada
mata kuliah Praktek Penelitian Pendidikan
Oleh :
AHMAD NAJMUDIN
NIM : 111410032
Jurusan
Pendidikan Agama Islam
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM RAHMANIYAH
SEKAYU
2013
[1] Dwi Sunar Prasetyono, Membedah Psikologi Bermain Anak.
(Yogyakarta : Think, 2007)
[2] Sardiman A.M, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta:
Tahun 2001), hal.75
[3] Ibid hla. 77
[4] Ibid. hal 91
[5] Dra. Moeslichatoen R. M.Pd. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. (Jakarta:
Tahun 2004), hal. 32
[6] Ibid. Moeslichatoen. Hal 170.
[7] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung
: Remaja Rosdakarya, 2004). Hal 6
[8] Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 1999). Hal 8
[9] J. Abdullah, Memilih Dongeng Islam Pada Anak,
(Jakarta : Amsah, 1997)
[10] Ibid, Moeslichatoen hal.168










0 komentar:
Posting Komentar